NORMA
ETIKA DALAM KEPEMIMPINAN
SUKU
KIMYAL
Dosen :
Prof.Dr. Hj.Ngadisha, MA
Tugas Mata Kuliah
: Etika Pemerintahan
Nama
: Timed Magayang
Kelas
: Cilandak Jakarta
NIM
.PD :
No.Aps : 13
PASCASARJANA PROGRAM DOKTOR
ILMU PEMERINTAHAN
INSTITUT PEMERINTAHAN DALAM NEGERI
JAKARTA, 2017
BAB
I
PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang
Di
Pulau Papua terdapat kurang lebih dari 270 bahasa di Papua bagian barat
(provinsi Papua dan
Papua Barat).
Nama-nama mereka terbentuk dari sejarah panjang Papua, termasuk pada masa
kolonialisme, dan juga interaksi dengan suku-suku di sekitarnya, interaksi
dengan badan-badan zending, dan aktivitas-aktivitas non-ilmiah lainnya.
Hasilnya seringkali membuat nama-nama bahasa di Papua membingungkan para
peneliti. Oleh karena itu nama bahasa dilihat sebagai gabungan antara nama yang
digunakan oleh masyarakat itu sendiri, dan nama yang diberikan oleh
literatur-literatur atau oleh para peneliti bahasa. Karena berbagai bahasa yang
notabene mayoritas belum pernah memiliki budaya tulisan tersebut dituliskan
namanya menggunakan huruf Latin, maka ada berbagai variasi nama. Banyak bahasa
juga dikenal dengan lebih dari satu nama, ejaan/cara penulisan maupun
pemenggalan kata. Seperti halnya nama Suku Kimyal di Kabupaten Yahukimo. Dan
466 Suku Papua yang berada di kepala
burung (sorong –Merauke) sisi sebelah barat Pulau Papua/West New Guinea,
diantaranya:
|
Hubla
|
Kimyal
Dll.
|
Sedangkan
Suku Kimyal adalah sebuah suku di Papua
bagian daerah pegunungan. Suku kimyal mendiami di Kabupaten Yahukimo Provinsi
Papua. Suku Kimyal tidak dikenal oleh
masyarakat Papua pada umumnya yang
mengenal hanya sebagian masyarakat gunung dengan 8 suku lain yang ada di
Kabupaten Yahukimo. Suku kimyal dikenal dengan tradisi dansanya yang unik dan khas.
Populasi suku Kimyal 24,456 jiwa mereka tinggal di bagian pedalaman Papua.
Populasi Suku Kimyal perpindah-pindah antar Kampung sejak dulu, Suku Kimyal memiliki Struktur keturunan
dengan 31 marga atau keret.
Nama suku Kimyal pertama kali diperkenalkan oleh
seorang Misionaris kebangsaan Australia Mrs. Elinor Young seorang misionaris
muda yang datang didaerah Korupun pada tahun 1970-an. Dia melihat letak
geografis antara komunitas masyarakat yang mendiami di wilayah ini dengan suku
bangsa Yali di bagian barat (Daerah Soloikma, Lolat, Ninia, Holuwon dan lainnya),
maka Mrs. Elinor menyebut istilah Kimyal dari ejaan : "Kimban/Khemban"
(logat daerah Sela) “Kesengban” (logat daerah Korupun) artinya ”Timur” dan
"Yale" artinya "Barat". Dengan demikian, hanya diambil kata
“Kim” dari Kimban atau Khemban dan "Yal" dari kata Yale. Kedua suku
kata ini dapat digabung menjadi “Kim-Yal” atau Kimyal. Kebanyakan masyarakat
lokal menyebut "Kemyal", dari frasa Khemban-Yale (Barat-Timur).
Tujuan dari pemberian nama dengan istilah Kimyal adalah bermaksud “orang-orang
yang mendiami di tengah-tengah kawasan timur dan barat. Akan tetapi penulis
sebagai pewaris negeri di suku bangsa ini, sangat tidak setuju dengan pemberian
nama suku dengan istilah Kimyal, sebab hal ini diberikan nama secara tidak
wajar dan dianggap asing sebelum nama ini terpopuler dan dikenal suku-suku
tetangganya sendiri maupun oleh orang luar seperti sekarang ini. Suku yang kini
disebut Kimyal dahulu adalah orang Mek oleh kalangan antropolog pada awal abad
lalu (1900-an) untuk kawasan ini (Neipsan, Nalca, Kosarek, Emdomen, Puldama’
Kono, Dirwemna’ Eipomek, Korupun, Sela, Kwelamdua, Dagi, Debula, Langda,
Bomela, Sumtamon dan Duram). sama halnya seperti orang Yali Selatan (Daerah
Ninia, Holuwon, Soba, Lolat dan lain-lain) dan orang Yali Utara (Daerah
Anggruk, Pronggoli, Apalapsili, Ubahak, Yahuli-Ambut dan lain-lain).
Kepemimpinan dan norma dimasyarakat
suku Kimyal tanpa belajar teori kepemimpinan mereka memiliki kekhasan seperti
suku bangsa lain di Indonesia dan di dunia lain.
2.
Perumusan
Masalah
Didalam
tugas makalah ini hanya membahas tentang Norma Etika dalam Kepemimpinan di suku
kimyal Kabupaten Yahukimo – Papua dengan demikian dapat dirumuskan bahwa :
1. Bagaimana
Norma Etika Dalam kepemimpinan suku Kimyal di Kabupaten Yahukim-Papua
2. Norma
apa saja yang ada di kalangan masyarakat suku Kimyal?
3. Apa, pandangan Masyarakat terhadap pemimpin dalam suku kimyal?
3.
Tujuan
Tujuan
dari tugas makalah ini adalah untuk mengetahui dan menyabarkan norma Etika
Kepemimpinan suku Kimyal di Kabupaten Yahukimo. Dan untuk menambah nilai tugas
mata kuliah kepemimpinan Pemerintahan.
II. PEMBAHASAN
I. TENTANG SUKU
KIMYAL
1. Pengertian
Suku Kimyal
Kimyal
artinya orang orang-orang yang tinggal di terbitnya matahari (diufuk timur)
atau tempat keluarnya matahari. sedangkan dalam bahasa Kimyal adalah “ Yalenang
(heng deiya’ ag nang).
Sedangkan
nama suku Kimyal adalah nama dari sebuah suku di antara sekian banyak suku yang
ada di Kabupaten Yahukimo Provinsi Papua. Salah satu hal yang membuat suku
Kimyal cukup dikenal dikalangan masyarakat pegunungan tengah dan di Kabupaten
Yahukimo adalah Dansa dan Kapak Batu yang sangat khas. Beberapa ornamen / motif
yang seringkali digunakan dan menjadi tema utama dalam proses menghiasi diri
wajahnya yang dilakukan oleh penduduk suku Kimyal. Namun tak berhenti sampai
disitu, seringkali juga ditemui koteka (Big)
dan (gam Blae). Selain itu juga
adalah khas danca (Moss) dengan siulan yang unik yang diciul melalui bibir dan
kaya gerakan kaki, badan dan tangan dengan sebuah lagu yang menceritakan
tantang kisah cinta, kisah perburuhan di hutan, memperitahuan akan perang,
kondisi alam dan kisah hidup pripadinya serta mengingat kepergian/meninggal
seseorang yang disayangi mereka ceritakan melalui sebuah lagu dengan nama atau
jenis lagu yang berbeda. Misalnya : mann, kalugne, segyal, bolumdomanne.
Keempat jenis lagu tersebut memiliki nada dan alunan suara yang berbeda dengan diantara
satu sama lainya. Ketiga jenis lagu ini juga memiliki kekhasan dari segi nada
dari latar belakang atau asal usul kampung tertentu. Mereka meramaikan lagu itu diacara tertentu
dengan waktu tertentu misal lagu yang mereka nyanyiakan pagi hari adalah
kalugne sedangkan sore hari atau siang adalah segyal.
2. Kondisi Alam
Kondisi di Wilayah yang mereka
tinggal sangat unik.karena datarannya tinggi yang tertutup oleh hujan es dan
diapit dengan gunung yang terjal, tersimpan kekayaan alam yang
takterhitungkan.Wilayah yang dihuni Suku Kimyal ini telah menjadi Kabupaten
sendiri dengan nama Kabupaten Yahukimo Timur dengan 8 Kecamatan atau Distrik.Hampir
setiap hari turun hujun dengan curah hujan (presipitasi
cair) sekitar 3000-4000 milimeter/tahun.Setiap harinya hujan dan dinginnya tidak
berbeda dengan air es yang ada didalam kulkas. Kondisi alam di daerah Kimyal
sebagian didaerah dingin dan sebagian didaerah panas, daerah ini kaya dengan
buah-buahan didaerah panas terdapat buah merah, sayur lilin dan buah sukun
dengan ikan sedangkan daerah gunung ada buah kelapa hutan banyak umbi-umbian
termasuk pisang ambon dan lain sebagainya.
3. Persebaran
Suku Kimyal tersebar dan mendiami wilayah disekitar
dibalik gunung karena diapit oleh gunung sebagian di daerah kaki gunung dan
sebagian dicelah-celah gunung Moronggo dan Yamin, dengan medan yang lumayan
berat mengingat daerah yang ditempati adalah hutan belantara, dalam kehidupan
suku Kimyal, batu yang biasa kita lihat dijalanan ternyata sangat berharga bagi
mereka. Bahkan, batu-batu itu bisa dijadikan sebagai mas kawin namanya Kerikyae dalam bahasa suku Kimyal. Semua
itu disebabkan karena tempat tinggal suku Kimyal yang membentuk “kolam” atau
diapit oleh gunung sehingga sangat sulit menemukan daerah rawah atau dataran
yang rendah/ lurus, sementara batu-batu yang ada digunung itu sangat berguna bagi mereka untuk membuat
kapak. Manfaat dari kapak itu sangat multi fungsi yaitu untuk bayar maskawin,
tebang pohon dll. Persebaran suku kimyal tersebar ke arah Timur, Barat utara
dan Selatan ke Timur sebagian masuk di suku Una dan Ukam (Bomela, Langda)
selain ke arah selatan yaitu masuk di daerah Suku Mek, Hein, Olsekla dan khan
mereka yang ke Barat Banga, anggruk dsb selain ke utara Debula, Sesebne dan
Dekai sebagian kimyal tapi ada yang masuk di Suku Momuna.
4. Keberadaan dan nama Kampung di Suku Kimyal
Keberadaan Masyarakat suku kimyal
tinggal di pegunungan. Telah dibahas sebelumnya tentang keberadaan masyarakat
suku Kimyal. Sedangkan, penghuni di
setiap kampung kira-kira 100 sampai 1000 orang hidup di satu kampung. Setiap
kampung mempunyai satu sampai 3 Honai adat yang di kramatkan dan banyak rumah
keluarga. Rumah Honai adat dipakai untuk upacara adat dan upacara keagamaan.
Rumah keluarga dihuni oleh satu keluarga. Hari ini, ada kira-kira 24.000 orang
suku Kimyal hidup di Papua. Mayoritas anak-anak Kimyal sedang bersekolah dan
sebagian menjadi pemimpin di pemerintahan dan juga keagamaan. Pemimpin
pemerintahan di Tahun 2016- 2021 adalah putra daerah suku Kimyal yaitu Bupati
dan Ketua DPRD Kabupaten Yahukimo.
Sedangkan jumlah kampung di Suku
kimyal sebanyak 45 Kampung dengan ada beberap dusun dari 4 Distrik di Suku
Kimyal. Nama Kampung disuku Kimyal yang ada penghuninya adalah : 1. Sela,
2.Korupun, 3. Duram, 4.Kwelamdua, 5.Phoy, 6.Monamna, 7.Soulda, 8.Orisin
9.Ouldoman, 10.Eyup, 11.Mondon,12. Megom, 13.Bera,14. Kyoas, 15.Eirama,
16.Hemsein 17.Haroman, Uklun 18.Senayom, 19.Baluk, 20.Balamdua, 21.Kemlikin,
22.Debula, 23.Obis 24.Sesebne.25.Kobugdua 26.Dagi 27.Dilda’o 28.Weral 29.Yabas,
30.Gina, 31.Goag 32.Niniwe 33.Yemin doman 34. Basal 35.Seget dam 36.Manekmog
37.Wirigna’as 38.Morome 39.Soma’dua 40.Dolbol 41.Kabedeia’. sementara nama pemerintahan kampung yang
jumlahnya melebihi tersebut dengan kepentingan politik para pejabat memekarkan
kampung demi kekuasaan tanpa fakta di tempat dimana manusia tinggal.
5. Ciri Fisik Suku Kimyal
Penduduk Kimyal pada umumnya memiliki ciri fisik yang
khas,berkulit hitam dan berambut keriting. Tubuhnya bendek, sedang dan bendek.
Rata-rata tinggi badan orang Kimyal wanita sekitar 161-170-an cm dan
tinggi badan laki-laki mencapai 161-170-an cm. Hidung mancung dan pesek
atau variatif mereka memiliki kecerdasan baik emosional dan filingnya yang
kuat.
6. Mata Pencaharian
Kebiasaan
bertahan hidup dan mencari makan antara suku yang satu dengan suku yang lainnya
di wilayah Suku Kimyal semua sama. suku Kimyal bagian darat, marga Waroman,
Magayang, Dapla dan Salla dll, mempunyai kebiasaan sehari-hari dalam mencari
nafkah adalah berburu binatang hutan seperti, ular, kasuari, burung, babi hutan
dll. mereka juga selalu meramuh / menokok sagu sebagai makan pokok dan nelayan
yakni mencari ikan dan udang untuk dimakan. kehidupan dari ketiga suku ini
ternyata telah berubah.
Sehari-hari
orang Kimyal bekerja dilingkungan sekitarnya,terutama untuk mencari makan,
dengan cara berburu maupun berkebun, yang tentunya masih menggunakan metode
yang cukup tradisional dan sederhana. Masakan suku Kimyal tidak seperti masakan
suku lain dipegunungan Papua dan diluar Papua. Masakan istimewa bagi mereka
adalah Bakar batu (mereka yang berada digunung) dan mereka yang berada di rawa
adalah ulat sagu. Namun sehari-harinya mereka hanya memanggang, daging babi dan
ikan atau daging binatang hasil buruan.
Dalam
kehidupan suku Kimyal “batu” yang biasa kita lihat dijalanan ternyata sangat
berharga bagi mereka. Bahkan, batu-batu itu bisa dijadikan sebagai mas kawin.
Semua itu disebabkan karena tempat tinggal suku Kimyal yang membetuk rawa-rawa
sehingga sangat sulit menemukan batu-batu jalanan yang sangat berguna bagi
mereka untuk membuat kapak, palu, dan sebagainya.
7. Makanan Pokok
Makanan Pokok orang Kimyal adalah Ubi, umpi-umpian,
dan sagu, hampir setiap hari mereka makan ubi dan sagu yang dibuat jadi
bulatan-bulatan yang dibakar dalam bara api adalah sagu sedangkan ubi dibakar,
masak di belanga dan bakar batu (pesta bakar batu). Kegemaran lain adalah makan
ulat sagu yang hidup dibatang pohon sagu, biasanya ulat sagu dibungkus dengan
daun nipah,ditaburi sagu, dan dibakar dalam bara api. Selain itu sayuran,
seperti sayur paku, pakis, gedi, daun laun labu siam dan ikan bakar dijadikan
pelengkap. Namun yang memprihatinkan adalah masalah sumber air bersih untuk
sebagian kampung sedangkan sebagian kampung air bersih terjamin karena hutan
disana belum disentuh oleh siapapun. Sedangkan derah rawa Air tanah sulit
didapat karena wilayah ini merupakan tanah berawa.Terpaksa menggunakan air
hujan dan air rawa sebagai air bersih untuk kebutuhan sehari-hari (khususnya
suku Kimyal-Momuna seperti kampun kiribun.
8. Pola Hidup
Pola hidup
bagi suku kimyal satu hal yang patut ditiru dari pola hidup penduduk asli suku
Kimyal, mereka merasa dirinya adalah bagian dari alam, oleh karena itulah
mereka sangat menghormati dan menjaga alam sekitarnya, bahkan, pohon disekitar
tempat hidup mereka dianggap menjadi gambaran dirinya. Batang pohon
menggambarkan tangan, buah menggambarkan kepala, dan akar menggambarkan kaki
mereka sehingga mereka menjaga hutan masing-masing sesuai dengan marga dan
keretnya tanpa melewati oleh orang luar atau sekampung tapi beda marga,
keturunan dan hubungan darah atau sosial.
9. Cara Merias Diri
Suku Kimyal memiliki cara yang sangat sederhana untuk
merias diri mereka sendiri. Mereka hanya membutuhkan tanah merah, buah pohon
tertentu yang ditanami oleh mereka sendiri untuk menghasilkan warna merah. untuk
menghasilkan warna putih mereka membuatnya dari kulit kerang yang sudah
dihaluskan dan ambil tanah liat ditempat tertentu itu yang dalam bahasa Kimyal
“Go aran” eleng. sedangkan warnah hitam mereka hasilkan dari arang kayu yang
dihaluskan. cara menggunakan pun cukup simpel, hanya dengan mencampur bahan
tersebut dengan sedikit air, pewarna itu sudah bisa digunkan untuk mewarnai
wajah mereka. Bukan hanya waja yang menghiasi namun koteka “Big” juga melakukan
perawatan dengan membuat gelang dengan penuh ketelitian dan kreatif dalam
membuat hanyaman dengan tali khusus, membutuhkan waktu untuk menghasilkan
sebuah hasil yang berkualitas karena sebuah yang mereka hias itu ditonton oleh
masyarakat luas dalam pesta adat, seperti membuat honai laki-laki “mem Youwae”,
inisiasi “merama” pesta bakar batu kemudian mengundang kampung lain untuk makan
dan tukar menukar hiasan dan potongan daging babi atau utuh sesuai kesepakatan
kedua belah pihak yang memiliki hubungan keluarga sejak lama. Merias bukan saja
kaum laki-laki namun kaum hawa pun sama, mereka tidak yang tampil di depan
setiap acara adalah wanita pilihan dan linca dalam menari dengan kedua kaki
dari ujung kaki kemudian menari bolak balik dengan teriakan yang khas ikuti
irama lagu yang akan digumandangkan oleh kaum lelaki. Pada umumnya bukan
seorang gadis tapi memiliki suami atau yang tertua dari kampung itu atau ibu
dari kepala pesta.
10. AdaT istiadat suku Kimyal
Adat
istiadat adalah perilaku budaya dan aturan-aturan yang telah berusaha
diterapkan dalam lingkungan masyarakat.
Adat istiadat merupakan ciri khas suatu daerah yang melekat sejak dahulu
kala dalam diri masyarakat secara langsung.
Sedangkan Suku
Kimyal menganut Animisme, sampai dengan masuknya para Misionaris baik dari
Zending RBMU, UFM, dan APCM pembawa pengajaran yang baru, maka mereka mulai
mengenal agama lain selain agam nenek-moyang. Dan kini, masyarakat suku ini
telah menganut berbagai macam organisasi kristen protetestan, seperti :GIDI,
GINGMI, GBI, GPDI, dan GKI. Seperti masyarakat pada umumnya, dalam menjalankan
proses kehidupannya, masyarakat Suku Kimyal pun, melalui berbagai proses,
yaitu :
- Kehamilan, selama proses ini berlangsung, bakal generasi penerus dijaga dengan baik agar dapat lahir dengan selamat dengan bantuan ibu kandung atau ibu mertua.
- Kelahiran, tak lama setelah si jabang bayi lahir dilaksanakan upacara keselamatan secara sederhana dengan acara pemotongan tali pusar yang menggunakan Sembilu, alat yang terbuat dari bambu yang dilanjarkan. Selanjutnya, diberi ASI sampai berusia 2 tahun atau 3 tahun.
- Inisiasi, khusus untuk anak laki-laki. Anak laki-laki yang beranjak umur 15 tahun dia harus melakukan pesta (me wes segna’) atau dalam bahasa Indonesia inisiasi (initiation) ada beberapa hal yang dia harus melangkai yaitu pertama: Tidur dan tinggal di honai perempuan, tidak naik ke honai laki-laki sedangkan setelah inisiasi anak laki-laki tersebut tidak boleh tidur atau sentuh perempuan, tidak makan makanan sembarangan, tidak turun ke honai perempuan dia harus tetap di honai laki-laki sampai waktu yang ditentukan oleh tetua adat. Jika melanggar maka hukumannya lebih berat dan bisa malapetaka akan menimpanya. Anak laki-laki menurut pandangan suku kimyal adalah berharga dipangan mereka sehingga pembayaran terhadap paman begitu mahal dengan biaya besar. Perang antar suku, perkebun, membuat honai, berburu dan membuat jempatan kekuatan berada pada laki-laki sehingga laki dianggap sebagai penting dalam kalangan masyarakat di suku kimyal dari dulu sampai dengan sekarang. Laki-laki sebagai tulang bungkung dalam keluarga, kalangan masyarakat atau komunitas mereka karena cara perang suku ini tiada ampun jika satu pihak yang jatuh korban nyawa semua mereka menjarahkan tanpa sisa baik manusia, rumah, dan benda apa saja yang menjadi milik pelaku kampung itu atau marga-keretnya.
- Pernikahan, proses ini berlaku bagi seorang baik pria maupun wanita yang telah berusia 17 tahun dan dilakukan oleh pihak orang tua lelaki setelah kedua belah pihak mencapai kesepakatan dan melalui uji keberanian untuk membeli wanita pihak dengan mas kawinnya Babi, gus pohon, barang antik lain yang berdasarkan pada nilai tinggi, , bila ternyata ada kekurangan dalam penafsiran harga, maka pihak pria wajib melunasinya dan selama masa pelunasan pihak pria dilarang melakukan tindakan aniaya walaupun sudah diperbolehkan tinggal dalam satu atap.
- Kematian, bila kepala suku atau kepala adat yang meninggal, maka jasadnya disimpan dalam bentuk mumi dan dipajang di Goa suku ini, tetapi bila masyarakat umum, jasadnya dibungkus diatas pohon kemudian setelah gugur semua tubunya dan tinggal tulangnya maka bawa tulang-tulang tersebut simpan di goa batu namun sekaran dikuburkan. Proses ini dijalankan dengan tangisan (dulu) sedangkan sekarang proses pemakanan diiringan nyanyian berbahasa Kimyal dan pemotongan ruas jari tangan, telinga dan lubangi ujung hidung dari anggota keluarga yang ditinggalkan.
11. Rumah Adat suku Kimyal
Rumah Tradisional Suku Kimyal adalah Jouwi/jouwe dengan panjang sampai 25 meter.Sampai
sekarang masih dijumpai Rumah Tradisional ini jika kita berkunjung ke Kimyal
Pedalaman.Bahkan masih ada juga di antara mereka yang membangun rumah tinggal
diatas pohon (suku Kimyal Momuna).
Rumah adat dibuat oleh kayu dipotong, belah kemudian dicincang dengan kapak
batu, baik papan, tiang dan klagar yang akan menopang atapnya sedangkan atapnya
ditutup dengan daun kelapa hutan dengan dihanyam serupa dengan rotan yang di
belah sesuai kegunaan.
Penghuni rumah adat suku kimyal adalah mereka yang
telah melewati proses inisiasi jika dengan maka walaupun laki-laki tetap tidur
di honai perempuan atau tempat khusus karena honai adat laki-laki merupakan satu tempat sakral.
Karena Honai Adat tersebut dinamai khusus sejak nenek moyang sehingga bentuk
bangunanpun khas dan ornamen bangunan baik didalam maupun diluar dihiasi serupa
dengan pesta bakar batu babi secara adat disaat membangun. Tempat bangunan
honai laki-laki dikhususkan dengan acara serimonial jika dipindahkan atau
melakukan pengkalian tanah untuk membangun honai baru. Membuat strategi perang,
berdansa, membayar kepala manusia yang dibunuh dengan babi dan berbicara soal
perkebunan baik bukan kebun baru atau panen semua difokuskan di honai adat
secara simultan.
12. Kepercayaan Dasar (Mitologi)
Masyarakat Suku Kimyal beragama
Kristen Protestan,dan Animisme yakni
suatu ajaran dan praktik keseimbangan alam dan penyembahan kepada roh orang
mati atau patung. Bagi Suku Kimyal ulat sagu merupakan bagian penting dari
ritual mereka.Setiap ritual ini diadakan,dapat dipastikan,kalau banyak sekali
ulat dan benda yang dipergunakan. (Kal Muller,Mengenal Papua,2008,hal.31)
Adat istiadat suku Kimyal mengakui dirinya sebagai
orang yang keluar dari mata air, goa
batu, terpang dan hinggap di pohon dll. Selain juga berasal dari dunia mistik
atau gaib yang lokasinya berada di mana mentari tenggelam setiap sore hari.
Mereka yakin bila nenek moyangnya pada jaman dulu melakukan pendaratan di bumi
di daerah pegunungan. Selain itu orang suku Kimyal juga percaya bila di wilayahnya
terdapat tiga macam roh yang masing-masing mempunyai sifat baik, jahat dan yang
jahat namun mati. Berdasarkan mitologi masyarakat Kimyal berdiam di setiap
gunung-gunang yang disekitar daerah mereka masing-masing, dewa atau roh gaib
dengan penamaannya masing-masing itu rahasia sesuai marga/keret. Orang Kimyal
yakin bahwa di lingkungan tempat tinggal manusia juga diam berbagai macam roh
yang mereka bagi dalam 3 golongan:
- Nimi dena ne/gel, roh jahat yang tinggalnya di muara sungai mereka mengaangap roh itu berbahaya jika ada tanda-tanda mereka temukan di sekitar kehidupan mereka.
- Bisa’ / soma’ roh manusia yang meninggal kemudian pergi kehutan mereka percaya bahwa ada kampung halaman dengan tempat yang mereka masih percaya terutama digunung tertentu misalnya gunung “Limangdul”.
- Memne / sigom ne” roh gaib yang mereka tinggal, makan, komunikasi dan melihat. Mereka tidak panggil namanya misalnya “soma’/bisa’ dalam bahasa Indonesia Satan/setan tapi mereka panggil dengan “memne” jika menyebutkan nama maka masalah akan menimba dalam keluarga dan orang itu sendiri. Jika roh jahat datang menggangu, sakit yang parah dan membuka kebun baru atau menyembelih ternak mereka maka persembahan tersebut menyerahkan kepada roh gaib tersebut dengan memanggil namanya. Hal ini, tidak sembarang orang yang tahu mengenal dan memberikan segala pengorbanan mereka adalah petugas dan dituakan.
Suku kimyal
percaya bukan saja ketiga roh tersebut namun ada roh lain seperti roh yang
datang memberi kesuburan, memberi kekayaan alam, ternak dan lain sebagainya.
Mereka juga percaya bahwa dibumi ini hanya mereka saja tinggal tanpa ada
manusia lai diluar sana karenanya mereka mengasumsi atau percaya bhawa ujung
langit diantara barat timur dan selatan disandar oleh kayu diatas gunung
sehingga langit tidak akan runtuh karena kekuatan pohon tersebut sangat kuat.
Kehidupan orang Kimyal banyak diisi oleh upacara-upacara. Upacara besar
menyangkut seluruh komuniti kampung yang selalu berkaitan dengan penghormatan
roh nenek moyang seperti berikut ini :
- Diga igna’ (pembuat tiang)
- Salengomna’ gwebna’ (pembuatan dan pengukuhan rumah /Youwae)
- Salengomna garena’ ab aroma’ memenna’ ab (pemotongan ujung kayu dan daun kelapa hutan)
- Meiya’ mouwae (upacara perisai)
Sementara itu suku ini percaya bahwa
nyawa manusia yang hidup kemudian sakit meninggal atau dibunuh dll, arwah orang
yang sudah meninggal yang datang bunuh jika dia punya hutang, pernah buat
kejahatan maka secara jelas datang dan bunuh.dimana roh orang meninggal itu
datang bunuh dengan cara penyakit, bencana, bahkan peperangan. Maka, demi
menyelamatkan manusia serta menebus arwah, mereka yang masih hidup membuat
patung (mogwhena’/ wesena’) mereka bawa gemuk babi dan bawa taru di tempat
tertentu.
Roh-roh dan Kekuatan Magis
- Roh setan
Kehidupan orang-orang Kimyal sangat terkait erat
dengan alam sekitarnya. Mereka memiliki kepercayaan bahawa alam ini didiami
oleh roh-roh, jin-jin, makhluk-makhluk halus, yang semuanya disebut dengan
setan dengan namanya masing-masing disetiap tempat mereka anggap ada makhluk
gaib. Setan ini digolongkan ke dalam 2 kategori :
1. Setan yang
membahayakan hidup. Setan yang membahayakan hidup ini dipercaya oleh orang
Kimyal sebagai setan yang dapat mengancam nyawa dan jiwa seseorang. Seperti
setan perempuan hamil yang telah meninggal atau setan yang hidup di pohon
beringin, roh yang membawa penyakit dan bencana.
2. Setan yang
tidak membahayakan hidup. Setan dalam kategori ini dianggap oleh masyarakat
Kimyal sebagai setan yang tidak membahayakan nyawa dan jiwa seseorang, hanya
saja suka menakut-nakuti dan mengganggu saja. Selain itu orang Kimyal juga
mengenal roh yang sifatnya baik terutama bagi keturunannya., yaitu berasal dari
roh nenek moyang yang disebut sebagai “memne”.
- Kekuatan magis dan Ilmu sihir
Orang Kimyal juga percaya akan
adanya kekuatan-kekuatan magis yang kebanyakan adalah dalam bentuk tabu. Banyak
hal -hal yang pantang dilakukan dalam menjalankan kegiatan sehari-hari, seperti
dalam hal pengumpulan bahan makanan seperti ubi, cari kayu bakar, membunuh gus
pohon, dan pemburuan binatang lainnya ditempat yang disakralkan. Jika lewat dan
menginjak maka roh jahat tersebut akan datang menggu atau masuk dalam tubuhnya
sehingga menjadi gila, namun yang bisa keluarkan adalah orang bersanggutan
artinya bahwa orang berada di lokasi sekitaran itu yang memberi pengorbanan
kepada roh jahat yang saling kenal diantara mereka sebagai penguasa diwilayah
itu.
Kekuatan magis ini juga dapat digunakan untuk
menemukan barang yang hilang, barang curian atau pun menunjukkan si pencuri
barang tersebut. Ada juga yang mempergunakan kekuatan magis ini untuk menguasai
alam dan mendatangkan angin, halilintar, hujan, dan topan serta bencana lain
diperkebunan.
13. Sumber Alam dan Potensi Alam
Sumber kekayaan alam dan potensi
alam di daerah ini berada pada tiga wilayah yaitu pegunungan, bukit-bukitan dan
rawah dimana sumber daya alamnya tidak sama ketiga daerah tersebut
masing-masing memiliki potensi alam yang berbeda sehingga mereka jika musiman
bagi tukar menukar antara rawah (sagu, ikan dan buah merah), bukit-bukitan
(buah merah, sayur lilin dan buah-buahan sugun) sedangkan daerah gunung (kelapa
hutan, ubi, dan sayur lilin/paku) segala kekayaan yang melimpah ruah.Daerah
Kimyal juga memiliki sumber daya alam yang amat luar biasa,seperti :
rotan,kayu,gahar,kemiri,kulit masohi,kulit lawang,damar, uranium, emas dan
kemenyan.
14. Wanita Dalam Pandangan Suku Kimyal
Sesungguhnya masyarakat Kimyal
menempatkan perempuan sebagai segalanya dan berharga bagi mereka. Hal ini terlihat
pada proses pinangan karena melalui tahapan tidak harus kawin atau hubungan
badan selayaknya suami istri. Sesuai adat dan tradisi pada umumnya suku lain di
Papua dan daerah lainya di Indonesia lebih khususnya di Suku Kimyal juga
memiliki cara tersendiri secara umum ada 3 tahapan pertama: Pinang (saboga molona’) kedua Pembayaran
Maskwain (saboga degna’) lalu yang ketiga adalah bayar kepala anak (merama’).
Yang menguras tenaga dan mengeluarkan biaya adalah bayar maskawin dan bayar
kepala anak (merama’ ab me ousa’ ab). Untuk memperoleh si gadis cukup rumit
karena pihak orang tua si gadis melihat dari beberapa aspek :
1. Ekonomi dan
kekayaan (bona’ab damnang ab),
2. Hubungan
sosial, kekerabatan atau prilaku anak laki dan keluarga sehari-hari
3. Kegagahan
/kejantan mereka melihat aspek ini karena anak laki tersebut tanggungjawab untuk
menurunkan keturunan dan menjaga/mengayomi kedua pihak.
Perempuan Kimyal memiliki multi
tugas karena mereka mengerjakan bekerjaan yang dikerjakan oleh laki-laki dan
bekerjaan perempuanpun mereka kerjakan diantaranya :
1. mengurus
laki-laki, menyiapkan makanan baik makan pagi dan malam
2. melahirkan
dan menyusui anak tanpa campur tangan oleh seorang suami
3. mendidik dan
membesarkan anak adalah tanggungjawab suami istri tergantung umur si buah hati
mereka.
4. mencari kayu
bakar dihutan
5. memelihara
ternak (babi)
6. menanam bibit dikebun baru dan membersihkan
rumput
7. Kali/cabut
ubi dan cuci ubi serta mengelola makanan termasuk bakar batu
8. Membuat atau
ancam noken dengan kulit kayu
9. Menanam,
mencabut kemudian menganyam pakaian mereka dengan rumput (Blae/ blee)
Sementara itu kegiatan laki-laki
Kimyal sehari-harinya adalah Kerja kebun, berburu dan menikmati makanan yang
disediakan istrinya, mengisap tembakau, membuat anak panah, menganyam gelang,
menghiasi koteka dan dan membuat rumah, jempatan serta perang. Selain itu suami
membuat perahu, dan membuat / mengasah kapak batu. Ada pula suami yang mau menemani
istrinya mencari kayu bakar.
Jika istri tidak menyiapkan
permintaan suaminya seperti ubi, sagu atau ikan, maka istri akan menjadi korban
luapan kemarahan. Kadangkala laki-laki
Kimyal mengukir, jika mereka ingin tau atau jika hendak menyelenggarakan
pesta.Ketika laki-laki mengukir, maka tugas perempuan akan semakin bertambah. Perempuan
harus terus menyediakan ubi atau sagu bakar dan makanan lain yang diinginkan
suami mereka agar dapat terus bertenaga untuk mengukir. Semakin lama laki-laki
mengukir,semakin banyak pula makanan yang harus mereka sediakan.
15. Upacara Adat dan
1. Perang dan masak Manusia
Suku kimyal
memilik kekhasan atau model tersendiri dalam hal perang antar suku. Faktor
meletusnya perang antar suku di suku kimyal dengan berbeda alasan sepertinya :
Masalah batas Tanah, Hutan, sungai, perampasan/ penculikan perempuan yang
persuami, dendam masalah lampau yang belum terbalaskan generasi sebelumnya.
Bukan hanya itu saja hanya bangun opini kemudian menyesatkan atau mempengaruhi
kemudian terjadi pembunuhan. Kemampuan mengelola emosi mereka sangat bendek,
pemimpin yang di tokohan ikut terpengaruh dengan situasi masyarakat yang labil
yang tadi, mereka merampok, membunuh dan membinasakan segala makhluk adalah
model mereka yang sangat melekat pada mereka jika dibunuh orang kesayangan
dikampun tertentu di suku Kimyal. Sedangkan acara makan manusia merupakan bukan
suatu keharusan namun jika pihak lawan telah membunuh orang yang dianggap
penting dan terpengaruh dikampung itu maka disaat bunuh mereka bawa sebagian
potongan tubuh kemudian masak dan makan. Kemudian orang yang tanggap
hidup-hidup baik medan perang atau halaman rumah yang biasa nya perangkap
dengan cara menyisir mereka kasihan makan daun umpi, pisang dan sebagainya
kemudian mereka dansa dihalaman honai adat bahwa orang yang ditanggap itu akan
dibunuh dan masak.
Proses pemotongan tubuh manusia dan masak itu mereka memotong sebagian
anggota tubuh dan mereka sebutkan nama orang-orang yang sebelumnya dibunuh oleh
lawan/musuh itu mereka katakan si “A” datang bunuh dan si “B” bunuh kamu
kemudian seluruh tubuh dicabit-cabit kemudian masak dan makan. Untuk makan
manusia tidak semua orang makan namun bagi mereka yang terbiasa makan manusia
itulah makan hanya pihak keluarga terutama paman (om) bahasa kimyal (mam)
dialah yang makan supaya hilang rasa sedih tapi tidak sampai disitu namanya om
(mam) itu segalanya dalam kepercayaan suku kimyal tidak sebutkan namanya
didepan dia, tidak melompat jika omnya duduk didepan anak atau apapun namanya
harus sopan dan hormati sebagai tuan atasnya. Sehingga di kimyal masih pakai
pembayaran bayar kepala (me ousa’).
2. Membuat Honai Adat (YOUWI/YOUWAE)
Honai (Youwi/youwae)
merupakan tempat strategis dan tempat yang disakralkan mereka percaya akan roh
gaib datang dan bersemayam di honai saat-saat tertentu untuk kepentingan umum
baik berkat maupun mala betaka yang akan menimpah dikampung itu.
Acara dansa
dengan segala kemampuan finansial yang memiliki para tetua (youwi soon nang)
mereka ini orang yang khususkan tidak sembarang orang dimana mereka mendapatkan
mantat dari roh gaib dan leluhurnya kepada marga atau keret tertentu. Dalam
puncak pembuatan honai adat mereka lakukan pesta besar-besaran dengan tarian
khas kimyal baik, melalui tifa, bunyi siulan dan irama lagu. Mereka lakukan
upacara waktu bersamaan di 1 hari bongkar, menyusun/membuat sampai dengan
menutup atap mereka kompak dalam pembuatan honai. Masyarakat kimyal percaya
akan berkat dan kutuk yang terima jika honai itu tidak di istemewahkan baik
makanan dan segala kekayaan mereka.
3. Dansa (Meiya’ Mouwae)
Suku Kimyal
melakukan acara makan babi atau pesta babi sehari penuh dengan tari-tarian
sepanjang malam sampai bisa 1 minggu tergantung makanan si pengundang. Prosesi
acara dansa (Meiya’ mouwae) adalah suatu peristiwa yang dinanti-nantikan oleh
kalangan masyarakat kimyal karena mereka saling janjian atau utang mengutang
baik potongan babi, perhiasan, noken, panah dll. Sehingga untuk balas utang
atau bayar utang itu jelas melalui momen tersebut. Masyarakat kimyal senang
dansa karena ada beberapa alasan mendasar misalnya: bagi gadis dapat jodoh
kesempatan itu di kampun yang akan perdansa dan sebaliknya laki-laki kemudian
sebagian masyarakat menginginkan makanan yang akan disajikan di kampung
tersebut. Perdansa biasa dalam 4-6 tahun sekali karena pesta babi membutuhkan
waktu yang lama untuk biara babi dan siapkan segala hiasan dll.
4. Membuka kebun baru dan panen kebun
Baru
Masyarakat suku
Kimyal kebun adalah kekayaan yang tak pernilai karena mereka hidup dari hasil
pertanian mereka. Masyarakat pada umumnya percaya akan roh gaib yang memberi
mereka kesuburan sehingga sebelum buka kebun baru dan panen kebun baru
memberikan gemuk babi (mog whena’) kepada roh gaib untuk memberi kesuburan dan
memberi banyak ubi (isinya banyak) melalui upacara adat tersebut. Mereka makan
dan perdansa pada waktu panen kemudian bagi dikampung lain yang belum punya
kebun baru melalui kelompok dan perorangan hal ini memiliki nilai persaudaraan
yang sangat kuat.
5. Inisasi (merama’) anak laki-laki
Masyarakat
suku Kimyal menganggap anak laki-laki adalah segalanya dalam keluarga dan
sekampung itu sendiri. Mereka menganggap penting karena segala sesuatu
bekerjaan berat dilakukan oleh laki-laki termasuk perang. Laki-laki sebagai
andalan dalam keluarga karena akan menggantikan keturuan, menjaga hutan, kebun
dan menjalani hubungan komunikasi dengan tamu kehormatan dalam keluarga
besarnya. Sehingga setelah anak laki-laki dilahirkan dengan batas umur kurang
lebih 15 tahun melakukan acara pesta inisiasi ( Merama’) dengan dansa,
melakukan pesta memotong babi kemudian mengundang om atau keluarga perempuan
dan laki-laki melakukan inisiasi.
6. Ritual Kematian
Orang Kimyal tidak mengenal dalam hal mengubur mayat orang yang telah
meninggal. Bagi mereka, kematian bukan hal yang alamiah. Bila seseorang tidak
mati dibunuh, maka mereka percaya bahwa orang tersebut mati karena suatu sihir
hitam yang kena padanya. Bayi yang baru lahir yang kemudian mati pun dianggap
hal yang biasa dan mereka tidak terlalu sedih karena mereka percaya bahwa roh
bayi itu ingin segera ke alam roh-roh. Sebaliknya kematian orang dewasa
mendatangkan duka cita yang amat mendalam bagi masyarakat Kimyal.
Suku Kimyal percaya bahwa kematian yang datang kecuali
pada usia yang terlalu tua atau terlalu muda, adalah disebabkan oleh tindakan
jahat, baik dari kekuatan magis atau tindakan kekerasan. Kepercayaan mereka
mengharuskan pembalasan dendam untuk korban yang sudah meninggal. Roh leluhur,
kepada siapa mereka membaktikan diri, direpresentasikan dalam ukiran kayu
spektakuler di kano, tameng atau tiang kayu yang berukir figur manusia. Sampai
pada akhir abad 20an, para pemuda Kimyal memenuhi kewajiban dan pengabdian
mereka terhadap sesama anggota, kepada leluhur dan sekaligus membuktikan
kejantanan dengan membawa kepala musuh mereka, sementara bagian badannya di
tawarkan untuk dimakan anggota keluarga yang lain di desa tersebut.
Apabila ada orang tua yang sakit, maka keluarga terdekat
berkumpul mendekati si sakit sambil menangis sebab mereka percaya ajal akan
menjemputnya. Tidak ada usaha-usaha untuk mengobati atau memberi makan kepada
si sakit. Keluarga terdekat si sakit tidak berani mendekatinya karena mereka
percaya si sakit akan ´membawa´ salah seorang dari yang dicintainya untuk
menemani. Di sisi rumah dimana si sakit dibaringkan, dibuatkan semacam pagar
dari dahan pohon nipah. Ketika diketahui bahwa si sakit meninggal maka ratapan
dan tangisan menjadi-jadi. Keluarga yang ditinggalkan segera berebut memeluk
sis akit dan keluar rumah mengguling-gulingkan tubuhnya di lumpur. Sementara
itu, orang-orang di sekitar rumah kematian telah menutup semua lubang dan jalan
masuk (kecuali jalan masuk utama) dengan maksud menghalang-halangi masuknya
roh-roh jahat yang berkeliaran pada saat menjelang kematian. Orang-orang Kimyal
menunjukkan kesedihan dengan cara menangis setiap hari sampai berbulan-bulan,
melumuri tubuhnya dengan lumpur dan mencukur habis rambutnya. Yang sudah
menikah berjanji tidak akan menikah lagi (meski nantinya juga akan menikah
lagi) dan menutupi kepala dan wajahnya dengan topi agar tidak menarik bagi
orang lain.
Mayat orang yang telah meninggal biasa diletakkan di
atas para (anyaman bambu), yang telah disediakan di luar kampung dan dibiarkan
sampai busuk. Kelak, tulang belulangnya dikumpulkan dan disipan di atas
pokok-pokok kayu. Tengkorak kepala diambil dan dipergunakan sebagai bantal
petanda cinta kasih pada yang meninggal. Orang Kimyal percaya bahwa roh-roh
orang yang telah meninggal tersebut (bi) masih tetap berada di dalam kampung,
terutama kalau orang itu diwujudkan dalam bentuk patung mbis, yaitu patung kayu
yangtingginya 5-8 meter. Cara lain yaitu dengan meletakkan jenazah di perahu
lesung panjang dengan perbekalan seperti sagu dan ulat sagu untuk kemudian
dilepas di sungai dan seterusnya terbawa arus ke laut menuju peristirahatan
terakhir roh-roh.
Saat ini, dengan masuknya pengaruh dari luar, orang
Kimyal telah mengubur jenazah dan beberapa barang milik pribadi yang meninggal.
Umumnya, jenazah laki-laki dikubur tanpa menggunakan pakaian, sedangkan jenazah
wanita dikubur dengan menggunakan pakaian. Orang Kimyal juga tidak memiliki
pemakaman umum, maka jenazah biasanya dikubur di hutan, di pinngir sungai atau
semak-semak tanpa nisan. Dimana pun jenazah itu dikubur, keluarga tetap dapat
menemukan kuburannya.
II.
PEMBAHASAN
1.
Norma
Etika Dalam kepemimpinan suku Kimyal di Kabupaten Yahukim-Papua
Pemimpin di kalangan
masyarakat suku kimyal tidak menganut pemimpin tunggal sama halnya dengan suku
lain di Papua. Istilah kepala Suku di suku kimyal “sogo borobne” konotasi dari
dua suku tersebut “sogo” artinya tanah
atau bumi sedangkan “borobne” yang artinya berkuasa di bumi atau pemegang kekuasaan
di daerah itu. Ada beberapa penyebutan untuk seorang pemimpin bukan hanya “sogo
Borobne” tapi ada juga “meiya’ Mouwae sanne” khusus untuk pemimpin ini dia
memiliki segudang kekayaan seperti “Meiya’ (babi) Yae (kapak batu) ag/agleng
(noken dan istri yang cakap dalam menjaga dan memelihara ternak sehingga orang
tersebut setiap momen ia mengadakan acara atau pesta dansa “Meiya’ Mouwae”
didalam acara “Meiya Mouwae” melakukan tukar menukar segala macam aksesoris dan
mereka buat perjanjian antar kampung untuk pesta berikutnya. Pemimpin dianggap
penting dalam kalangan masyarakat suku kimyal adalah mereka yang memiliki roh
gaib “suruba’ gibna’” di suku kimyal
masing-masing suku-marga memiliki tempat penyembahan dan nama roh gaib
berdasarkan asal usul keluarnya suku itu misalnya menurut kepercayaan
masyarakat bahwa marga “A” keluar dari mata air, si “B” goa batu dan ikut jalan
pintas dsb.
Sedangkan Norma Etika dalam
kepemimpinan seorang pemimpin sogo borobne, mal wenne, youwi sonne dan meiya’
mouwae sanne, ketiga unsur pemimpin tersebut memiliki tugas masing-masing tapi
juga meranggap karena kegahan dan kebolehan atau kemampuan dalam memimpin,
mengarahkan serta mengatasi permasalah dikalangan masyarakat kurang mampu
secara ekonomi, kekuatan baik emosionalnya, personelnya mereka sangat menjaga
etika dan norma dalam kepemimpinan.
2.
Norma
–Norma yang ada di Kalangan Masyarakat suku Kimyal?
Norma-norma yang ada didalam
masyarakat suku kimyal adalah tidak melawan anak muda untuk pacaran dibawa umur
17 tahun. Mereka percaya akan reproduksi seorang anak gadis dan anak laki
kemudian tanggungjawab dalam rumah tangga nanti setelah menikah secara adat.
Mem
nong nona’ gom gom wera gelabo dong gom mali daneba’ hong segle di bhanong
gerebalem bog whenae gelabo doblom.
Kemudian memberi pandangan
atau larangan terkait makanan yang dimakan oleh seorang laki-laki yang perumur
15-25 tahun yang perlu dan tidak perlu dimakan. Karena mereka percaya bahwa
faktor makanan tertentu, baik itu ternak dan binatang buruan memiliki dampak
negatif pada saat medan perang. Dan itu memang terjadi misalnya dapat bunuh,
kena panah, jatuh bunuh diri dan cacat anggota si anak itu sendiri.
Norma etik dalam kalangan
masyarakat kimyal laki-laki pujang tidak boleh kena perempuan pujang apa lagi
menerima atau meminta makanan. Selain itu perempuan tidak boleh makan buah
merah disaat yang bersamaan dengan laki-laki di pesta bakar batu. Ada juga
perempuan yang sudah mens dikhusus kan di rumah yang sudah sediakan sepanjang
mens/ datang bulan.
3.
Pandangan Masyarakat terhadap Pemimpin
dalam Suku Kimyal?
Bagi suku kimyal tidak ada pemimpin tunggal
(kepala suku) hal ini salah paham dalam kalangan masyarakat kimyal masa kini
karena dulu belum pernah ada pemimpin tunggal. Kepala suku konotasinya adalah
penguasa tunggal yang menguasai dalam hal ekonomi, politik dan hukum. Sedangkan
suku kimyal memiliki marga atau keret sehingga mereka menganggap tidak perlu
dipimpin oleh orang lain untuk diatur atau mengatur karena masing-masing memiliki tanah, hutan dan
sungai. Dimana mata pencahariannya memperoleh langsung melalui sumber daya alam
yang menjadi andalan dalam kelangsungan masyarakat suku Kimyal.
Kehadiran menunjukkan kepemimpinan adalah
pada saat perang, itupun orang tertentu yang mengatasi dengan pembayaran kepala
atau mengatasi masalah dengan perundingan itupun batas waktu.
Masyarakat kimyal menganggap pemimpin sebagai
wakil Tuhan yang harus dihargai selama menjaga kepercayaan dalam tutur kata,
prilaku dan etika berbicara. Suku kimyal masa kini dan dulu tidak sama karena
masuknya misionaris memberitakan kabar gembira yaitu Injil dimana mereka
membuka mata rohani dan memandang kedepan kemudian terjadi perubahan yang
sangat pesat.
“Blegnang
gom mem bherop ulam gob wera dagom arob
gangge niri nem Eim ayung belyak log ulam gob”
Artinya : Jangan melawan mari kita hidup
tentram dan damai satu sama lain dan menjaga semua ciptaan Tuhan.
III.
Penutup
Nama suku Kimyal pertama
kali diperkenalkan oleh seorang Misionaris kebangsaan Australia Mrs. Elinor
Young seorang misionaris muda yang datang didaerah Korupun pada tahun 1970-an.
Dia melihat letak geografis antara komunitas masyarakat yang mendiami di
wilayah ini dengan suku bangsa Yali di bagian barat (Daerah Soloikma, Lolat,
Ninia, Holuwon dan lainnya), makaMrs. Elinor menyebut istilah Kimyal dari ejaan
: "Kimban/Khemban" (logat daerah Sela) “Kesengban” (logat daerah
Korupun) artinya ”Timur” dan "Yale" artinya "Barat". Dengan
demikian, hanya diambil kata “Kim” dari Kimban atau Khemban dan "Yal"
dari kata Yale. Kedua suku kata ini dapat digabung menjadi “Kim-Yal” atau
Kimyal.
Keberadaan Masyarakat suku kimyal tinggal di
pegunungan. Telah dibahas sebelumnya tentang keberadaan masyarakat suku
Kimyal. Sedangkan, penghuni di setiap
kampung kira-kira 100 sampai 1000 orang hidup di satu kampung. Setiap kampung
mempunyai satu sampai 3 Honai adat yang di kramatkan dan banyak rumah keluarga.
Rumah Honai adat dipakai untuk upacara adat dan upacara keagamaan. Rumah
keluarga dihuni oleh satu keluarga. Hari ini, ada kira-kira 24.000 orang suku
Kimyal hidup di Papua. Mayoritas anak-anak Kimyal sedang bersekolah dan
sebagian menjadi pemimpin di pemerintahan dan juga keagamaan. Pemimpin
pemerintahan di Tahun 2016- 2021 adalah putra daerah suku Kimyal yaitu Bupati
dan Ketua DPRD Kabupaten Yahukimo. Sedangkan jumlah kampung di Suku kimyal
sebanyak 45 Kampung dengan ada beberap dusun dari 4 Distrik di Suku Kimyal
DAFTAR PUSTAKA
Koentjaraningrat (1998) Pokok-pokok Etnografi.
Jakarta: Rineka Cipta
Koentjaraningrat (1980) Sejarah Teori Antropologi.
Jakarta: UI Press
Sudarman, Dea (1993) Menyingkap Budaya Suku Pedalaman
Irian Jaya. Jakarta: Delata
Internet
timedmagayang.blogspot.com/2016/06/suku-kimyal.html
timedmagayang.blogspot.com/2016/06/suku-kimyal.html
http;//www.scribd.com/Suku_Kimyal/5-11-2011
http;//www.ksupointer.com/Suku_Kimyal_Sosok_Budaya_Indonesia_diPapua/5-11-2011
http;//www.lestariweb.com/Indonesia/Papua_People_Kimyal/5-11-2011

Tidak ada komentar:
Posting Komentar